prostetik indonesia

Perkembangan Ilmu Ortotik Prostetik Indonesia

Ortotik Prostetik  Indonesia – Ilmu yang Terbilang Baru 

Di dunia internasional Ilmu Ortotik Prostetik sudah berkembang sangat pesat. Namun, Ilmu Ortotik Prostetik Indonesia masih terbilang baru dan langka. Ilmu Ortotik Prostetik  didefinisikan sebagai ilmu keteknikan medis terkait pelayanan, pengukuran, pembuatan dan pemeriksaan serta pengepasan serta alat ganti anggota gerak tubuh manusia yang tidak berfungsi/hilang atau disabilitas. Ilmu Ortotik meliputi ilmu tentang alat penguat anggota gerak tubuh atas atau bawah yang lemah sehingga dapat dikoreksi. Sedangkan Ilmu Prostetik adalah ilmu tentang alat pengganti anggota gerak atas maupun bawah pada manusia. Dengan demikian, Ilmu Ortotik Prostetik merupakan kombinasi beberapa disiplin ilmu. Diantaranya adalah ilmu anatomi tubuh manusia, ilmu patologi terkait penyebab kecacatan tubuh manusia dan ilmu biomekanik.

Tenaga ahli profesionalnya disebut ortotis dan prostetis, sebuah profesi yang tergabung dalam Tim Rehabilitasi Medis. Profesi ini diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 22/2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Ortotis Prostetis. Minimal tenaga ahli ini harus memiliki ijazah Diploma III Ortotik Prostetik. Sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI tersebut, tenaga ahli prostetik Indonesia tersebut tergabung dalam Organisasi Ikatan Ortotis Prostetis Indonesia (IOPI).

Sejarah Perkembangan Ortotik dan Prostetik Indonesia

Prof Dr. Soeharso dikenal sebagai pendiri rehabilitasi pertama di Indonesia. Tahun 1982 Akademi fisioterapi membuka pendidikan Ortotik Prostetik setingkat DIII. Sempat vakum hingga pada Tahun 2002-2003 dibuka kembali hingga sekarang. Saat ini ada dua Politeknik yang mengajarkan Ilmu Ortotik Prostetik Indonesia, yaitu Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes) di Surakarta dan Jakarta.

Program Studi Ortotik Prostetik menjadi bagian program studi D3 Jurusan Fisioterapi di Poltekkes Surakarta sejak tahun 2003. Untuk memenuhi standard internasional yang ditetapkan oleh ISPO (Ikatan Ortotik Prostetik Dunia), Poltekkes Surakarta bekerja sama dan mendapat bantuan dari Handicap International dari Perancis. Selanjutnya, pada Tahun 2009 jurusan ini dibukan di Poltekes Depkes Jakarta I. Dan  pada Tahun 2011 Pemerintah meresmikan Program DIV Ortotik Prostetik dan SLTA Technisi Ortotik-Prostetik.

Potensi Pengembangan Industri Prostetik Indonesia

Berdasarkan data BPS yang dipublikasikan dalam laman kemensos.go.id menyatakan bahwa jumlah penyandang difabel di Indonesia mencapai angka sekitar 3% dari total jumlah penduduk. Sekitar 6 juta lebih adalah penyandang difabel di Indonesia. Namun demikian, baru sekitar 18% yang telah menggunakan alat bantu (tangan atau kaki palsu). Data tersebut menunjukkan bahwa industri ortotik dan prostetik Indonesia belum berkembang baik.

Di samping itu, sumber daya manusia yang handal di bidang Ortotik dan Prostetik Indonesia masih sangat terbatas. Beberapa industri kecil lokal memproduksi kaki prostetik Indonesia tetapi masih dengan metode konvensional. Meskipun harga produksi kaki palsu lokal ini cukup terjangkau karenan berbasis low-cost, namun secara fungsi dan penggunaan masih kurang baik. Dibandingkan dengan perkembangan di dunia, maka prostetik Indonesia sangat ketinggalan. Untuk jenis kaki palsu canggih  yang telah menggunakan teknologi maju seperti model 3D dan chips, sebagian besar merupakan produk impor.

Salah satu produsen kaki palsu canggih yang telah mendunia, yaitu Teh Lin Pros & Ortho, Inc adalah salah satunya. Memiliki kantor pusat di Taipe, Taiwan, perusahaan ini telah menjangkau pasar Asia Tenggara, salah satunya Indonesia. Teh Lin menunjuk Sehatindo Prosthetics (Indo Teh Lin Pros & Ortho) yang berkedudukan di Jakarta sebagai distribusi resmi di Indonesia. Untuk memperoleh informasi lengkap mengenai produk-produk unggulan Teh Lin,  kunjungi web resmi Sehatindo berikut ini: www.sehatindo.co.id.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *